Ismail 'Alaihis Salam : Singsingkan Bajumu agar Tak Kotor oleh Darahku

Oma Prilly

"Ayah, ikatlah yang kencang agar aku tidak bisa bergerak. Singsingkan bajumu agar bercak darahku nanti tidak mengotorimu dan agar ibu tidak bersedih saat darahku mengalir. Segerakanlah tajamnya pisau itu ke leherku agar terasa lebih ringan. Karena kematian itu sungguh sangat dahsyat. Dan, jika engkau telah kembali, sampaikanlah salam kasihku kepadanya.”

Narasi di atas adalah ucapan 'terakhir' Nabi Ismail 'alaihis salam ketika injuri time, detik - detik akhir seorang nabi diperintah oleh - Nya untuk menyembelih anak kandung tersayangnya.

Narasi di atas adalah true story alias kisah nyata atas ujian kepada dua sosok manusia pilihan, yakni Nabi Ibrahim alaihis salam dan putranya pemuda Ismail yang diperintah Gusti Allah melalui mimpi berulang kali.

Peristiwa tragika kemanusiaan yang sulit dipahami oleh nalar dan logika manusia awam dan bahkan oleh manusia modern sekali pun. Betapa tidak, ketika Nabi Ibrahim AS diperintah Allah SWT lewat kedalaman mimpi yang berulang kali agar 'menghabisi' putra kinasih - nya Ismail yang masih belasan tahun itu.

Ketika Nabi Ibrahim AS kebingungan dalam menakwilkan mimpinya, ia tidak kesusu, tergesa membenarkannya tetapi tidak pula mengingkarinya.

Belum mudeng berkontemplasi, merenungi atas mimpi pertamanya, tiba-tiba Nabi Ibrahim AS disusul dengan mimpi kedua yang isi mimpinya sama. Begitu pun dengan mimpi malam ketiganya. Dan, mimpi ketiga itulah akhirnya Nabiullah itu baru meyakini benar bahwa rangkaian mimpi itu benar-benar nyata dan harus direalisasikan.

Kisah nyata antara bapak - anak itu pun berlanjut yang kemudian Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya itu pada anak semata wayangnya.

“Maka ketika anak itu sampai [ pada umur ] sanggup berusaha bersamanya, [ Ibrahim ] berkata, ‘Wahai anakku! Sungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’” [ Surat As-Saffat ayat 102 ].

Atas pernyataan dan pertanyaan Ibrahim ayahnya, dengan tegas Ismail muda itu menjawabnya.

“Dia [ Ismail ] menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan [ Allah ] kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." [ Surat As-Saffat ayat 102 ].

Bagi kedua sosok itu, Ibrahim dan Ismail begitu sangat taat pada perintah Allah yang telah menjadi ketetapan - Nya. Perintah untuk menyembelih anaknya sendiri itu adalah sebagai bentuk manifesto seorang hamba atas perintah - Nya.

Peristiwa antara bapak - anak yang akan menjalankan perintah -Nya atas penyembelihan itu telah terjadi pernyataan ikhlas dari Ismail muda.

Ucap Ismail, Ayahku. Palingkanlah wajahku hingga tak akan terlihat olehmu. Karena sesungguhnya jika melihat wajahku, engkau akan merasa iba yang dapat menghalangi kita untuk melaksanakan perintah Allah. Ucap Ismail lagi, apalagi di depan mataku terlihat kilatan tajamnya pisau, tentu bisa membuatku ketakutan.

Akhirnya, peristiwa yang haru biru, dan penuh heroik itu, tubuh Ismail muda yang sudah terbaring dengan tajam pisau di lehernya, tiba - tiba 'dibarter' oleh Gusti Allah dengan sembelihan seekor domba gemuk. Dan, ketika kualitas kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Allah tidak menghendaki penyembelihan itu terjadi. Allah melarangnya dan kemudian mengganti kurbannya dengan seekor domba.

Akhirnya, adakah hari ini di negeri ini yang jangan hanya bisa memperingati saja tapi tidak bisa dan apalagi bersedia meneladani sosok seperti Ibrahim AS dan Ismail AS, itu? 

Selamat Idul Adha 1447 H

Oma Prilly
Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026 / 9 Dzulhijjah 1447 H

Related

Cover Story 7358036279514049445

Follow Us

Postingan Populer

Connect Us

DIPLOMASINEWS.NET
Alamat Redaksi : Perumahan Puri Jasmine No. 07, Jajag, Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur
E-mail : redaksi.diplomasi@gmail.com
item