Ketika Desa Tamanagung Gelar Ritual Tiban : Di Atas Panggung 'Pecut-pecutan', Di Bawah Jadi Kawan

DIGDAYA : Gelaran ritual seni Tiban di Desa Tamanagung, Banyuwangi, Jawa Timur. [ Property of Roy ]

Diplomasinews.net
-- Tamanagung -- Banyuwangi -- Siang itu, matahari terasa menggantung rendah di atas kepala. Tepat pukul 11.00 WIB, Minggu, 27 September 2026, panasnya matanya hari itu benar-benar mendidihkan arena ketangkasan sekaligus kedigdayaan raga dalam seni tradisi Tiban di Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Banyuwangi, Jawa Timur.

Catatan media online di atas stage, panggung seni Tiban bahwa para petiban itu bergantian saling melecutkan cambuk lidi ke punggung lawannya yang bertelanjang dada itu.

Aturan mainnya, petiban pertama diberi kesempatan untuk menyambuk lawan mainnya sebanyak tiga kali cambukan. Kemudian, petiban yang dicambuk tadi giliran melecutkan cambuknya ke punggung lawannya. Demi menjaga safety, keamanan cedera di wajah, para petiban itu diwajibkan mengenakan helm pengaman. Dan, sepanjang gelaran ritual tiban tersebut juga ditingkah dengan suara talu gamelan pentatonis Jawa yang mengalun tanpa henti.

SILATURAHMI : Budiharjo, tokoh masyarakat Desa Tamanagung. [ property of Roy ]


Masih catatan media online ini di arena tiban, ternyata para petiban itu tidak hanya datang dari daerah setempat saja tetapi mereka datang dari luar kota Banyuwangi, seperti dari Tulungagung, Blitar, Trenggalek dan Kediri.

Sekadar catatan kaki, bahwa ritual Tiban juga bagian dari seni tari. Sedangkan kata Tiban berasal dari bahasa Jawa yaitu tiba atau jatuh. Dan, makna dari Tiban secara bebas bisa dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak dinyana-nyana. Tidak diduga sebelumnya.

Sedangkan Tarian Tiban itu adalah sebuah 'ikhtiar' atau permohonan kepada Gusti Allah agar diturunkan hujan.

Kemudian, kontekstualnya dengan tradisi Tiban tersebut adalah menunjuk kepada peristiwa hujan yang jatuh mendadak dari langit. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari sering disebut dengan udan tiban alias tiba-tiba hujan.

Khususnya di masyarakat Jawa Timur, seni tradisi tiban itu selalu digelar ketika ketiga ngerak alias musim kemarau ekstrim.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat, Budiharjo ketika ditemui di sisi panggung tiban menuturkan bahwa gelaran tradisi tiban tersebut bukan sebagai arena adu kuat antar sesama tetapi lebih mengedepankan panggung silaturahmi semata.

NGELURUG : Peserta ritual tiban dari Blitar, Muhyidin. [ Property of Roy ]


Lanjutnya, gelaran tradisi tiban bukan mencari siapa yang paling digdaya, siapa mengalahkan siapa dan siapa pemenang dan siapa yang jadi pecundang.

"Seni tiban adalah murni persahabatan," tegas Budiharjo.

Di tempat dan waktu yang sama, salah satu peserta tiban dari Lodaya, Blitar, Muhyidin, 52 tahun ketika ditemui usai bertarung itu menuturkan bahwa pihaknya ngelurug hingga ke tanah Blambangan tersebut membawa sedikitnya 18 orang jawara. 

Lanjutnya, sesungguhnya dirinya bertandang dan bertanding tiban hingga di Banyuwangi itu tidak saling memecuti tubuh - tubuh lawannya apalagi mencari musuh. Tetapi budaya tiban itu justru akan saling mengikat dan mempererat tali silaturahmi antar sesama. Membangun persaudaraan antar orang - orang Blitar dengan para sedulur di Banyuwangi. 

Masih lanjutnya, biarkan para jawara tiban itu saling pecut-pecutan di atas gelanggang tetapi ketika sudah berada di bawah semua akan berubah menjadi teman. 

Adakah modal kesaktian atau kekebalan tubuh ketika para jawara tiban berlaga di atas gelanggang itu? Lelaki asal Blitar itu dengan tegas menjawab tidak ada kebal - kebalan. Tidak ada sakti - saktian. Tetapi yang ada hanya sekadar hiburan kemudian berakhir menjadi paseduluran, persahabatan selamanya.  

"Di atas gelanggang sebagai lawan. Di bawah gelanggang justru menjadi kawan," ucap lelaki asal Blitar itu. 

Onliner : Roy Enhaer
Editor : Roy Enhaer
Publisher : Oma Prilly

Related

Cover Story 6251750118098028650

Follow Us

Postingan Populer

Connect Us

DIPLOMASINEWS.NET
Alamat Redaksi : Perumahan Puri Jasmine No. 07, Jajag, Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur
E-mail : redaksi.diplomasi@gmail.com
item