BBK 7 Sumbermulyo Bersama Sanggar Candraningtyas : Membangun Kemitraan dan Melestarikan Budaya Melalui Panggung Wisata Jungle Island


Diplomasinews.net -- BANYUWANGI – Sanggar Seni Candraningtyas yang berlokasi di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, terus berinovasi dalam menjaga semangat dan keberlanjutan pembinaan seni tari bagi anak-anak dan remaja. Tidak ingin hanya terpaku pada ajang perlombaan, sanggar ini membuka ruang baru bagi para penari muda untuk tampil secara rutin di hadapan publik melalui panggung wisata.

Mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumbermulyo sejak 5 Januari 2026 berkesempatan berinteraksi langsung dengan pengelola Sanggar Candraningtyas serta anak-anak dan remaja yang sedang menjalani latihan rutin. Interaksi ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam mendukung penguatan komunitas seni dan budaya lokal.

Ruri, pengelola Sanggar Candraningtyas, menjelaskan bahwa menggantungkan semangat belajar anak-anak hanya pada kompetisi memiliki risiko tersendiri. Kekalahan dalam perlombaan kerap membuat motivasi belajar menurun apabila tidak diimbangi dengan ruang ekspresi lain.

“Kami tidak ingin anak-anak hanya disiapkan untuk lomba saja. Jika mereka kalah sekali atau dua kali, biasanya semangat belajarnya langsung turun. Itulah mengapa kami mencari cara agar mereka punya panggung rutin,” ujar Ibu Ruri.

Sebagai solusi, Sanggar Candraningtyas menjalin kerja sama strategis dengan Jungle Island, destinasi wisata baru yang tengah berkembang di Banyuwangi. Melalui kolaborasi ini, para penari mendapatkan kesempatan tampil secara rutin setiap minggu di hadapan wisatawan.

Penampilan berkala tersebut bertujuan untuk melatih mental, menambah jam terbang, serta membangun rasa percaya diri para penari. Dengan adanya jadwal tampil yang pasti, siswa sanggar tetap antusias berlatih tanpa harus menunggu adanya perlombaan.

Tidak hanya unggul dalam seni tari, Sanggar Candraningtyas juga menunjukkan kemandirian dalam pengelolaan busana pertunjukan. Menariknya, kostum tari yang digunakan merupakan hasil produksi mandiri para anggota sanggar.

Anak-anak sanggar dilibatkan langsung dalam proses pembuatan kostum, sehingga mereka tidak hanya memahami nilai estetika busana tari, tetapi juga belajar menghargai atribut seni yang dikenakan saat tampil. Selain memenuhi kebutuhan internal, sanggar juga membuka layanan penyewaan busana tari bagi masyarakat umum. Inisiatif ini menjadi bentuk diversifikasi kegiatan yang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan operasional sanggar.

Dalam proses pembinaan, Sanggar Candraningtyas juga menanamkan nilai rasionalitas dan pentingnya pendidikan formal. Setiap atraksi dan teknik pertunjukan yang diajarkan, termasuk atraksi yang kerap dianggap mistis seperti trik api di mulut, selalu dijelaskan secara logis dan ilmiah.

Pengelola menyebut teknik tersebut sebagai “semi sulap”, yakni keterampilan yang dihasilkan dari latihan, penguasaan teknik, serta pemahaman keamanan, bukan karena kekuatan gaib. Pendekatan ini bertujuan membentuk pola pikir kritis pada anak-anak agar tidak bergantung pada kepercayaan mistis.

Sejalan dengan prinsip tersebut, sanggar juga menerapkan aturan tegas bahwa seluruh anggota wajib menempuh pendidikan formal. Anak-anak yang putus sekolah tidak diperkenankan untuk melanjutkan keanggotaan di sanggar. Bagi pengelola, seni dan pendidikan harus berjalan beriringan demi masa depan generasi muda yang berkelanjutan.

Mahasiswa BBK 7 Sumbermulyo turut berpartisipasi aktif dengan mengikuti latihan tari bersama anak-anak dan remaja pegiat seni di Sanggar Candraningtyas. Kegiatan ini menjadi sarana pertukaran pengetahuan sekaligus penguatan hubungan antara mahasiswa dan komunitas lokal.

Evita Kusuma Dewi, salah satu mahasiswa BBK 7, menyampaikan bahwa aktivitas Sanggar Candraningtyas sejalan dengan prinsip Pembangunan Berkelanjutan.

“Kegiatan Sanggar Candraningtyas menunjukkan upaya mendukung pembangunan berkelanjutan, mulai dari peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang inklusif, pendampingan komunitas lokal dalam mengembangkan usaha berkelanjutan, hingga terjalinnya kemitraan berbagai komponen masyarakat di Banyuwangi,” ungkapnya.

Dengan perpaduan latihan rutin, panggung wisata, kemandirian produksi kostum, serta penanaman nilai rasional dan pendidikan, Sanggar Candraningtyas menjadi contoh nyata pelestarian budaya yang adaptif, mendidik, dan berkelanjutan di Desa Sumbermulyo, Banyuwangi.

Contributor : Hari/Ikhsan
Publisher : Oma Prilly

Related

Cover Story 8381104910873135054

Follow Us

Postingan Populer

Connect Us

DIPLOMASINEWS.NET
Alamat Redaksi : Perumahan Puri Jasmine No. 07, Jajag, Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur
E-mail : redaksi.diplomasi@gmail.com
item